Kita Butuh Dialog
di bawah bulan,
di atas laut,
diapit gugusan pulau yang menggelap seraya matahari tersedot tanah beberapa jam lalu
dari balik pulau seberang.
ditiup angin. diacak keraguan. pikiran ku.
seribu nama di kaki, namun satu di hati.
kita butuh dialog.
heran.. kenapa tubuh ini mendingin dan menjauh saat ada kamu?
tapi di saat yang sama, hati ini menari lincah dan melompat karena kamu?
degupan kencang rasanya mulai naik ke tenggorokan, hendak menyapamu.
dengarkah kamu?
sial.. ternyata cuma hembusan karbondioksida, tak berani ku menyapa.
kamu, kita butuh dialog..
aku letih memulai. adakah kamu merasakan kejumpalitan ini?
ruang pikirku kamu sentuh secara gak sopan.
raga kita bersampingan, namun tanpa sentuhan, hatikupun kamu acak-acak.
adakah kamu mendengar teriakan ini?
semakin ke sini aku semakin bingung sama kamu
terlebih lagi sama perasaan saya sendiri.
perasaan saya tuh sebenernya ke kamu itu apa namanya?
sudah kesekian kalinya. berbulan-bulan. tahunan mungkin.
entahlah.
mungkin kalau aku itu pria, bukan wanita, aku akan samperin kamu,
menyapa kamu.
memulai. kita butuh dialog.
tolong kamu yang mulai.
manusia bukan barcode scanner yang bisa baca semua kode. manusia diciptakan untuk melempar dan menangkap kode khusus.
ketika satu manusia melempar kode dan ditangkap dengan baik oleh yang satunya, berarti ada koneksi di antara mereka.
koneksi.
kita butuh dialog.
2013